8 Jan 2013

Indonesia Pengguna Software Bajakan Nomor 7 Terbesar Dunia

Indonesia Pengguna Software Bajakan Nomor 7 Terbesar Dunia
Berdasarkan riset Business Software Alliance (BSA) dan Ipsos Public Affairs 2010 menyebutkan, dari sisi perilaku pengguna dan kurangnya penegakan hukum untuk penggunaan software ilegal, Indonesia berada di urutan 7 terhadap penggunaan software ilegal (tanpa lisensi) dari 32 negara di dunia.

BSA melakukan survei terhadap 400-500 responden di 32 negara. Secara global BSA melaporkan bahwa 74 persen pengguna komputer pribadi di dunia menggunakan software ilegal.

Lebih jauh lagi, berdasarkan tingkat pemakaian software bajakan, IDC (International Data Corporation) dalam 2010 Piracy Study yang dirilis Mei 2011 menyatakan bahwa saat ini Indonesia menduduki peringkat ke-11 dengan jumlah pemakaian software bajakan sebesar 87 persen.

Sementara studi dampak pemalsuan terhadap perekonomian Indonesia yang dilakukan Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan (MIAP) dan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LPEM UI) pada 2010 menyatakan, produk software palsu menjadi salah satu produk yang banyak digunakan konsumen Indonesia sepanjang 2010 yakni sebesar 34,1 persen.

Sekjen MIAP Justisiari P Kusumah di Jakarta, Kamis (16/2/2012), mengatakan MIAP sebagai salah satu komponen masyarakat merasa ikut bertanggungjawab untuk mensosialisasikan fakta bahwa dengan adanya peredaran dan penggunaan barang palsu dan barang bajakan secara langsung telah menyebabkan kerugian negara serta hilangnya kesempatan kerja.

"Jadi argumen yang mengatakan kegiatan pemalsuan dan pembajakan telah mendorong perekonomian negara dan menciptakan lapangan kerja tersebut adalah merupakan argumen yang tidak valid karena jelas dari hasil studi justru kegiatan tersebut membawa dampak negatif," ujarnya.

Dari 12 sektor industri di Indonesia, total kerugian akibat pemalsuan barang atau bajakan ditaksir berkisar Rp 43 triliun. Industri software merupakan salah yang terbesar mengalami kerugian, diperkirakan berkisar Rp 15 triliun.Berikut software yang paling populer :

1. Keluarga Microsoft
Sulit rasanya memungkiri ketergantungan pengguna komputer di Indonesia atau bahkan di dunia terhadap software buatan perusahaan milik Bill Gates ini. Sistem operasi Windows dan aplikasi perkantoran Microsoft Office merupakan dua software yang paling sering dibajak.
Diyakini Kepala BSA Indonesia Donny A. Sheyoputra, mulai dari pengguna komputer di perkantoran hingga rumahan telah bergantung kepada dua software Microsoft tersebut. Di luar Windows dan Office, ada pula Microsoft Visio yang dikatakan juga sering ditemui ketika digelar razia.

2. Adobe
Software-software keluaran Adobe juga dianggap cukup sering menjadi korban bajakan. Produk yang paling sering jadi korban adalah Photoshop. Aplikasi ini juga bak menjadi aplikasi edit gambar/foto wajib bagi para pengguna komputer Tanah Air.

3. Symantec
Untuk jajaran antivirus, Symantec dengan produk Nortonnya menjadi aplikasi yang sering dibajak. Symantec 'bersaing' dengan McAfee untuk menjadi software keamanan yang sering digunakan tanpa izin.

4. Autodesk
Meski termasuk aplikasi yang segmented alias hanya digunakan oleh kalangan tertentu tak membuat software keluaran Autodesk tak diminati oleh pengguna tak resmi. Donny mengatakan, software Autodesk tak hanya untuk mereka yang bekerja di industri desain seperti arsitektur dan pengembang bangunan. Namun juga bisa dipakai oleh perusahaan biasa untuk merancang tata letak peralatannya.

5. Corel
Sementara Corel juga menjadi aplikasi edit gambar/foto yang sering ditemui ketika razia digalakkan. Donny juga tak yakin, aplikasi yang ada di komputer-komputer sitaan tersebut digunakan semaksimal mungkin. "Yang penting instal saja," tukasnya kepada detikINET.

Berikut daftar negara dan presentase software bajakann yang dipakai :
1. China: 86 %
2. Nigeria: 81 %
3. Vietnam: 76 %
4. Ukraina: 69 %
5. Malaysia: 68 %
6. Thailand: 65 %
7. Indonesia 65 %
8. Saudi Arabia: 62 %
9. Korea Selatan: 60 %
10. Meksiko: 60 %
11. Brazil: 55 %
12. Kolombia: 54 %
13. Chile: 53 %
14. Rusia: 52 %
15. Spanyol: 50 %
16. Polandia: 48 %
17. Republik Ceko: 47 %
18. Turki: 43 %
19. Argentina: 39 %
20. Italia: 37 %
21. Australia: 37 %
22. Amerika Serikat: 34 %
23. Swiss: 31 %
24. Belanda: 30 %
25. Inggris: 30 %
26. Jepang: 29 %
27. Swedia: 29 %
28. India: 28 %
29. Kanada: 27 %
30. Prancis: 26 %
31. Jerman: 21 %
32. Afrika Selatan: 20 %

0 komentar:

Posting Komentar